Demi memacu budaya riset di Indonesia, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) harus siap bersinergi dengan semua perguruan tinggi di Indonesia. Sebab, riset menjadi salah satu kewajiban pokok bagi perguruan tinggi.

Kinerja yang menunjukkan jati diri sebagai seorang akademisi saat ini masih belum optimal, disebabkan porsi aktivitas dosen hanya lebih banyak dihabiskan pada pembelajaran kelas dan tugas administratif saja. Padahal Tridharma Perguruan tinggi merupakan kesatuan yang utuh.

Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Asep Saefuddin, mengatakan riset harus menjadi ciri khas sebuah perguruan tinggi. Oleh karena itu, sebagai kampus yang ingin menguatkan budaya riset civitas akademikanya, Universitas Trilogi terus melakukan berbagai upaya agar para dosen terbiasa untuk melakukan kegiatan riset.

"Dosen juga diwajibkan mengikutsertakan mahasiswa dalam kegiatan risetnya. Lebih dari itu, riset yang dilakukanpun diarahkan membawa nilai dan manfaat kepada masyarakat luas. Tidak hanya sebatas berupa laporan saja," ujar Asep, seperti keterangan tertulis yang diterima Okezone, Jumat (3/4/2015).

Guru Besar (Gubes) Bidang Statistika itu melanjutkan, memang yang selalu menjadi kendala riset utamanya adalah kecilnya motivasi dosen dalam meneliti. Selain itu, tentunya berkaitan dengan anggaran riset itu sendiri.

"Untuk menjawab kendala tersebut, perguruan tinggi perlu sebuah peta, agar para dosen sekaligus mahasiswanya terbiasa melakukan riset. Selain itu, harus dibentuk sebuah mitra yang triple helix antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pihak industri," ucapnya.

Asep menambahkan, harus dibangun pemetaan agar arah risetnya fokus dan jelas. Selanjutnya, perguruan tinggi juga perlu menjalin kerjasama dengan pemerintah dan dunia industri.

"Melalui hubungan triple helix yang sinergis ini, dipastikan akan dapat memajukan riset di Indonesia,” ungkapnya.

Hal senada dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir. Dirinya mengungkapkan, salah satu dari tiga strategi pokok kebijakan Sistem Inovasi Nasional Indonesia yang terkait dengan peran perguruan tinggi adalah dengan memperkuat kemitraan bersama dunia usaha dan pengguna.

“Kemitraan perguruan tinggi, bisnis, dan pemerintah dalam pola sinergi triple helix harus kita kembangkan terus untuk meningkatkan hilirisasi atau komersialisasi hasil riset ke pasar, sehingga pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta inovasi dapat berkontribusi secara nyata dalam pembangunan nasional,” tutur Nasir.

Oleh karena itu, gubes yang sempat terpilih menjadi Rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu menyatakan, siap bekerjasama dan bersinergi dengan Universitas Trilogi.

“Kemenristekdikti dan tujuh lembaga pemerintah non kementerian (LPNK), yaitu BPPT, LIPI, BATAN, LAPAN, BIG, BSN dan BAPETEN siap bekerjasama dan bersinergi dengan Universitas Trilogi dalam upaya mengembangkan sumber daya manusia (SDM) serta inovasi yang unggul," katanya.

Nasir menambahkan, kerjasama antar lembaga sangat penting untuk hubungan yang saling mengisi antar lembaga. Hubungan ini merupakan aspek penting karena akan terjadi pemanfaatan bersama sumber daya, sarana dan prasarana iptek.

"Sinergi sumber daya ini harus dikedepankan dengan mengurangi egosektoral di antara institusi di Indonesia," tambahnya.


 

© 2019 STAK Samarinda. All rights reserved.